Tukang Sampah di Singapura Harus Punya Lisensi

Penulis:   Taufik Hidayat | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Fasilitas Waste to Energi Plant di Keppel. Foto: Ist

JAKARTA, Metasatu.com – Di Indonesia sampah masih menjadi salah satu masalah yang belum memiliki solusi jitu, terutama di kota-kota besar.  Jakarta dan Bekasi misalnya sering bersitegang mengenai Bantar Gebang.  Masih ingat Bandung yang pernah menjadi lautan sampah?

Selain mengurangi keindahan dan kebersihan serta mengganggu kesehatan, pengelolaan sampah yang kurang baik dan terkesan masih tradisional juga mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan hidup. Tidak mengherankan, kalau di sela-sela kemegahan kota sering dijumpai tumpukan sampah, termasuk di sungai-sungai yang sering menyebabkan banjir di kala hujan.

Kalau kita berkunjung ke Singapura, rasanya terus kagum karena kota atau negeri itu sering dijuluki sebagai negeri yang bersih.  Bukan hanya di jalan protokol seperti Orchard Road atau tempat-tempat wisata, kalau kita blusukan ke kompleks perumahan seperti di Bedok, Tampines, atau Choa Chu Kiang sekali pun, tidak akan ada sampah yang berserakan. Bahkan ke tempat “jin buang anak” di Singapura seperti Pulau Ubin atau Kampung Bangkuok pun suasana nya tetap sama, bersih dan rapi.

Untuk mengetahui rahasianya, Metasatu sempat berbincang-bincang dengan Jimmy, warga Singapura yang kebetulan tinggal di Tanah Merah, di bagian timur Pulau Singapura yang tidak terlalu jauh dari Bandara Changi, tempat dia dulu bekerja.

“Ketika saya masih kecil dahulu, tahun 1960-an Singapura juga tidak terlalu bersih dan masih banyak kampung kumuh,” ujar Jimmy, Sabtu (12/2/2022), memulai ceritanya sambil mengenang masa lampau.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ekonomi Singapura, tata kota dan manajemen pengelolaan sampah juga berkembang menjadi lebih efisien dan modern serta ramah lingkungan,

Setiap tahun, jutaan ton sampah dihasilkan penduduk Singapura. Sebagian besar yaitu lebih dari 61 persen didaur ulang sementara sisanya dikelola lebih lanjut di fasilitas pembakaran atau insinerasi yang abunya kemudian digunakan untuk menimbun pulau buatan, yaitu Semakau Landfill.

Di Singapura sendiri sekarang ada sekitar 500 perusahaan pengelola sampah yang mempekerjakan lebih dari 12.000 karyawan dengan berbagai keahlian khusus. Dari tukang pengumpul sampah, bagian sortir, daur ulang, hingga, konsultan proyek dan  litbang.

Pada saat ini ada lebih dari 320 tukang pengumpul sampah bersertifikat yang dinamakan  Licensed General Waste Collectors. Di dalam industri pengelolaan dan daur ulang sampah ini terdapat beberapa tingkat pekerja sesuai dengan keahlian dan pendidikan yang telah dilalui, dari crew hingga supervisor dan manajer. Semuanya harus punya sertifikat yang sesuai dengan standar WSQ Singapura.

WSQ adalah Workforce Skills Qualification yang merupakan standarisasi untuk semua tenaga kerja di Singapura dalam berbagai bidang.

Menurut Jimmy, sejak tahun 2011 pemerintah Singapura telah menetapkan standar WSQ untuk pengelolaan sampah dan daur ulang. WSQ ini dikembangkan bersama oleh Workforce Singapore (WSG), National Environment Agency (NEA) – badan pemerintah yang bertanggungjawab untuk keberlanjutan lingkungan yang bersih dan hijau, dan Waste Management and Recycling Association of Singapore (WMRAS).

Secara singkat dijelaskan bahwa proses pengelolaan sampah dimulai dengan partisipasi penduduk Singapura sendiri baik di rumah, apartemen maupun tempat usaha tempat sampah disortir untuk memilah sampah yang bisa didaur ulang.

Setelah itu sampah yang tidak bisa didaur ulang dibawa ke Waste-To-Energy Plant di berbagai lokasi di Singapura untuk proses pembakaran dalam suhu sangat tinggi yang disebut insinerasi.  Ada beberapa fasilitas Waste-To-Energy Plant seperti di Tuas, Senoko, Tuas South dan Keppel Seghers Tuas.  Dalam proses insinerasi ini dihasilkan uap yang sanggup menggerakkan turbin sekaligus menghasilkan tenaga listrik

Setelah proses insinerasi, sampah yang telah berubah menjadi abu kemudian dibawa ke Tuas Marine Transfer Station untuk dikirim dengan kapal khusus dalam perjalanan 3 jam menuju Semakau Landfill, kawasan seluas 350 hektar lebih yang terletak sekitar 8 Km di sebelah selatan Singapura, antara Pulau Semakau dan Pulau Sakeng.

Diperkirakan fasilitas di Semakau ini akan mampu menampung abu hasil insinerasi hingga lebih dari tahun 2035.

Pemerintah Singapura melalui National Environment Agency  juga tengah mengembangkan Integrated Waste Management Facility (IWMF) untuk membantu Singapura memenuhi kebutuhan manajemen pengelolaan sampah dan mencapai lingkungan yang berkelanjutan di masa depan.

Yang menarik, IWMF ini akan memiliki lokasi yang sama dengan Tuas Water Reclamation Plant, yaitu di Tuas View Basin yang disebut Tuas Nexus.

Tuas Nexus diharapkan selesai pada 2025 sehingga pengelolaan sampah bisa bersinergi dengan pengelolaan air di Singapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.