Tokoh Masyarakat Metro Protes Festival Bumi Sai Wawai

Penulis:   Naim Emel Prahana  | Editor:  NEP
oleh
Drs H Sudarsono Js memprotes digantinya nama Festival Putri Nuban dengan Festival Bumi Sai Wawai saat peringatan HUT ke 85 Kota Metro, Kamis (9/6/2022). Foto: Ist/NEP

METRO, Metasatu.com—Di tengah riuh rendahnya serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke 85 Kota Metro sampai pemotongan tumpeng di pelataran halaman Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Metro beberapa tokoh, pedagang K-5 dan anggota dewan menyampaikan protes.

Seperti yang disampaikan mantan Ketua DPRD Drs H Sudarsono JS saat acara peringatan HUT di dewan tersebut, Kamis (9/6/2022),  Festival Putri Nuban itu ada sejarahnya, jangan asal mengubah jadi Festival Bumi Sai Wawai (BSW).

Menurut  Darsono—panggilan akrab tokoh masyarakat itu, wilayah Kota Metro berasal dari tanah Buay Nuban, kemudian diberikan kepada kaum kolonis pada tanggal 17 Mei 1937.

“Apa sih salahnya, sebagai kenang—kenangan dan jasa baik dari penimbang Buay Nuban. Maka, seharusnya Festival Putri Nuban itu jangan dihilangkan,” tegas  Darono kepada Metasatu di gedung DPRD Metro, Kamis (9/6/2022).

Dijelaskan Darsono, pergantian nama dari Festival Putri Nuban menjadi Festival BSW dinilai sebagai upaya Pemkot Metro mengaburkan sejarah.

“Seharusnya, itu tidak boleh diganti dengan festival yang baru, dan harusnya memang Festival Putri Nuban dipertahankan. Sejarah itu jujur, tidak boleh dikaburkan,” tegasnya.

Dia pun meminta Pemkot Metro untuk mengembalikan lagi nama festival Putri Nuban pada HUT Metro ke-86 di tahun 2023.

“Tahun depan harus kembali lagi Festival Putri Nuban, dan diharapkan tidak ada lagi nama Festival Bumi Sai Wawai itu, ” kritiknya.

Sementara itu, beberapa pedagang kaki lima (K-5) di kawasan lapangan Samber, juga mengeluh dilenyapkannya nama festival Putri Nuban, yang biasanya diselenggara setiap even di lapangan Samber.

Ketua Paguyuban Keluarga Permainan dan Kuliner (PKPK) Samber Park, Rozi Fernando mengaku berkah peringatan HUT Metro ke-85 tidak dirasakan lantaran tidak ada kegiatan masyarakat di lapangan Samber.

“Kami pedagang kecil ini kalau ada acara ada tambahan masukan, seperti HUT Metro tahun ini, kami sangat kecewa karena tidak ada lagi Metro Fair, ” urainya seraya menambahkan, akibat hal tersebut, tambahan pendapatannya mengalami penurunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.