Tjilatjap History, dari Barang Rongsok untuk Merangkai Sejarah

Penulis:    | Editor:  
oleh
Salah satu kegiatan Tjilatjap History. Foto: Dokpri / Ist

Metasatu.com — Jika ingin menghancurkan suatu bangsa, maka hilangkan saja ingatan tentang sejarah bangsa tersebut. Ungkapan ini tentu bukanlah omong kosong belaka. Sudah banyak terbukti di muka bumi antara lain melalui perang, penjajahan, hingga genosida.

Berbekal kekhawatiran  akan hilangnya ingatan generasi muda Cilacap akan sejarahnya sendiri, membuat Riyadh Ginanjar memutuskan terjun langsung dalam upaya mengedukasi masyarakat melalui komunitas Tjilatjap History.

Kepada wartawan Metasatu, Gita Fetty Utami, Riyadh berbagi cerita mengenai kiprah komunitas Tjilatjap History. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kediaman Riyadh, sekaligus base camp komunitas, pada awal Februari 2022 lalu.

Bisa ceritakan awal mula berdirinya komunitas Tjilatjap History? 

Awalnya saya bergabung dengan komunitas Banjoemas History Heritage Community yang diketuai Mas Jatmiko, sekitar 2011-2012. Tapi terus saya mikir, Cilacap juga belum ada yang mikirin sejarahnya.

Lalu tahun 2014 saya putuskan mendirikan komunitas, awalnya sendirian saja. Kemudian di tahun 2018 saya mulai dapat teman di Cilacap. Lalu tanggal 17 Agustus 2021 barulah kami mulai pergerakan untuk edukasi ke masyarakat.

Ketika di tahun-tahun awal berdirinya komunitas, apa yang Mas Riyadh lakukan? 

Di masa itu saya konsen mengumpulkan arsip-arsip sejarah.

Bagaimana cara komunitas mendapatkan dan mengumpulkan arsip? 

Kebanyakan kami dapat dari loakan, Mbak. Dari bakul rongsok di Cilacap, atau saling tukar arsip dengan sesama penggiat sejarah.

Menarik. Bagaimana caranya dan mengapa komunitas menjalin kerjasama dengan penjual rongsok/barang bekas? 

Jadi di antara rongsokan itu banyak harta karun, Mbak, yang dibuang orang karena tidak tahu nilainya. Sebelumnya kami sudah woro-woro ke penjual rongsok, supaya segera menghubungi kami apabila menemukan arsip maupun foto-foto kuno.

Ya, tentu saja mereka senang. Karena harga per barang bekas itu tentu lebih mahal bila dijual ke kami, dibandingkan jika mereka jual kiloan.

Dari mana dana yang dipakai untuk belanja arsip kuno itu, Mas? 

Sebagian besar dari dana pribadi, Mbak. Karena memang sengaja saya alokasikan anggaran khusus. Kalau untuk pergerakan atau edukasi, kami ada kas sosial.

Apakah komunitas pernah melakukan transaksi penjualan arsip sejarah? 

Pernah, Mbak. Tapi hanya untuk arsip atau dokumen yang tidak berkaitan dengan sejarah Cilacap. Nanti dananya digunakan untuk mencari arsip sejarah Cilacap lainnya. Ya, subsidi silang istilahnya.

Sebenarnya benda bersejarah apa saja yang menjadi fokus dari komunitas ini? 

Sebagian besar berupa arsip, surat, foto, atau bisa juga artefak kuno yang ditemukan di wilayah Cilacap.

Apa contoh artefaknya, Mas? 

Waktu itu pernah sejenis pedang atau tombak kuno, ditemukan di lokasi proyek penggalian jalan. Ada juga prasasti di Kesugihan. Lalu baru-baru ini batu bata kuno yang ditemukan di area pemakaman Karang Suci. Mungkin itu bekas tembok pelabuhan lama (letak pemakaman bersisian dengan Bengawan Donan, red).

Sepanjang perjalanan komunitas, adakah perhatian dari Pemda Cilacap? 

Ya, sebenarnya kurang. Sejauh ini kami baru pernah menjalin kerjasama dengan Dinas P dan K untuk pameran arsip, serta Dinas Pariwisata untuk program Jelajah.

Padahal aset sejarah itu bukan cuma urusan satu dinas saja, melainkan saling terkait. Contoh Benteng Pendem. Lahannya milik TNI, pengelolaannya jadi bagian Dinas Pariwisata, edukasinya ke Dinas P dan K. Begitu, Mbak.

Apa saja program Tjilatjap History? 

Sejauh ini ada 4 program yang dijalankan berkala. Yakni jelajah sejarah, pameran arsip, bersih-bersih makam, dan kunjungan ke saksi sejarah.

Ada berapa orang anggota komunitas sampai sekarang?

Sekitar 30 orang.

Apakah feedback yang Mas Riyadh rasakan sejauh ini? 

Kepuasan batin, Mbak. Misal saat ada pameran arsip, melihat reaksi anak-anak melihat pameran sejarah Cilacap. Mereka biasanya tercengang dan kagum.

Apa harapan Mas Riyadh melalui kegiatan komunitas Tjilatjap History? 

Agar masyarakat Cilacap lebih bangga dengan sejarahnya sendiri, ketimbang silau dengan sejarah daerah lain.

Komunitas ini aktif di media sosial terutama Instagram. Pembaca yang tertarik ingin berinteraksi secara langsung, bisa mengontak akun IG @tjilatjaphistory.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.