Thomas Sutasman Ingin Kenalkan Sejarah Lokal pada Warga Cilacap

Penulis:   Gita Fetty Utami  | Editor:  Gita Fetty Utami
oleh
Thomas Sutasman menunjukkan dua buku karyanya. Foto: Gita FU

CILACAP, Metasatu.com — Sejarah lokal suatu tempat kerap kali terpinggirkan dan terlupakan, apalagi bila tak ada catatan tertulis yang bisa jadi acuan. Menyadari hal tersebut Thomas Sutasman merasa gelisah.

Ia yang sehari-hari mengajar matematika, sekaligus menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMP Pius Cilacap, juga menyadari tidak adanya muatan sejarah lokal dalam kurikulum sekolah.

Fakta-fakta tersebut membuatnya membulatkan tekad untuk menulis buku bertema sejarah Cilacap.

“Referensi sumber sejarah (tertulis) tentang Cilacap itu sedikit sekali. Kebanyakan berupa cerita-cerita legenda atau mitos di masyarakat. Padahal dengan tertulis maka tidak akan hilang dari ingatan generasi mendatang,” ungkapnya pada Metasatu, Rabu (11/5/2022).

Maka melalui riset kurang lebih selama empat bulan, pada November 2021 ia berhasil menerbitkan secara indie buku solo perdana berjudul Jejak-jejak Sejarah Cilacap.

“Buku ini tebalnya kurang lebih hampir 200 halaman. Di dalamnya saya masukkan juga data dan fakta berdasarkan bukti otentik, tentang Cilacap zaman dulu,” kenangnya.

Sejak diluncurkan hingga kini, buku perdana tersebut disambut antusias para pembaca yang penasaran.

“Sudah cetak ulang kedua ini, Mbak. Total cetak 200 eksemplar, sekarang sisa beberapa saja,” sebutnya.

Setelah menerbitkan buku perdana, Thomas Sutasman langsung tancap gas menulis buku kedua. Kali ini ia memilih fokus menulis dan mengangkat nama Soekardjo Wirjopranoto, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, putra asli daerah Kesugihan Cilacap.

“Untuk buku yang kedua ini memang belum saya launching. Karena saya menyesuaikan dengan tanggal kelahiran Soekardjo Wirjopranoto, 5 Juni. Mudah-mudahan sekitar awal bulan Juni sudah bisa terbit,” tutur Thomas.

Ia menyebutkan keinginannya untuk meluncurkan buku keduanya di Kesugihan. Desa kelahiran sang tokoh.

Selama proses kreatif penulisan buku, Thomas mendapati banyak hal di Cilacap yang harus didokumentasikan.

“Mengapa? Karena kalau tidak didokumentasikan nanti akan berubah jadi mitos atau legenda,” sebutnya.

“Ini saja hanya sebagian kecil yang ada di Cilacap. didokumentasikan. Masih banyak lagi yang bisa diangkat didokumentasikan. Dan kenapa lewat buku? Itu dokumentasi yang lebih abadi, lebih awet, bisa dibaca khalayak bertahun-tahun kemudian,” tegasnya.

Fakta tentang Soekardjo Wirjopranoto

Thomas menyebutkan, meskipun Soekardjo Wirjopranoto adalah kelahiran Cilacap dan pahlawan nasional, belum ada ruang publik, jalan, nama gedung yang mengabadikan namanya.

“Padahal ini layak karena dia kelahiran Cilacap. Dan ini mengispirasi ternyata ketika dibaca riwayat hidupnya. Pemikiran-pemikirannya sangat tajam untuk nasionalisme Indonesia. Terutama menjelang dan awal-awal kemerdekaan,” ungkapnya.

“Saya cantumkan satu tulisan yaitu Rakyat Menuntut di mana dia sangat pedas sekali ketika dibaca Belanda tahun 1949. Ketika itu Ibukota Jakarta pindah ke Jogjakarta,” tuturnya.

Thomas bercerita lebih lanjut, saat buku perdananya diluncurkan bersama Komunitas Tjilatjap History, banyak tamu hadir dari kalangan ASN, dan media.

Setelah itu Thomas memberikan beberapa eksemplar bukunya pada stake holder terkait, maupun tamu yang datang ke sekolah.
Tujuannya agar para pemangku kepentingan itu mengenal sejarah Cilacap.

Langkahnya itu menuai reaksi positif. Mereka yang membaca bukunya menjadi antusias, karena selama ini belum tahu sejarah lokalnya sendiri.

Thomas mengaku bergerak sendiri dalam proses kreatif kepenulisan. Ia tidak bergabung dengan komunitas menulis mana pun, semisal K’Gum (Komunitas Guru Menulis).

“Komunitas yang saya ikuti hanya Tjilatjap History,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.