Tarik Kaum Milenial, Ini Penjelasan Kepala SMK Grisa Ngawi

Penulis:   Dian  | Editor:  Dian
oleh
Dokpri

NGAWI, Metasatu.com– Saat ini sekolah jurusan sudah menjadi pilihan kaum milenial, sehingga beberapa Sekolah Menengah Kejuruan berlomba bagaimana menjaring murid, agar tetap banyak peminatnya. Tak terkecuali SMK PGRI 1 Ngawi yang terletak di jalan Rajawali 32 Beran Ngawi.

Banyak para pelajar yang setelah lulus sekolah ingin langsung bekerja dengan berbagai alasan, di antaranya ingin membantu keuangan orang tua dan mandiri.

Ditemui di ruang kerjanya pada Senin (8/8/2022) saat menerima Polwan Polres Ngawi yang melaksanakan “Polwan Goes to School” dalam rangka hari jadi Polwan RI ke 74 tahun 2022, Kepala Sekolah SMK PGRI 1 Ngawi Farid Samsul Hadi, S.Pd, M.Pd., menyatakan bahwa rata-rata para pelajar ingin mandiri dan cepat bekerja demi membantu keuangan orang tuanya.

“Jumlah pengajar yang ada saat ini 103 orang, karyawannya 25 orang dan siswanya berjumlah 2054 pelajar yang rata rata ingin mandiri dan bekerja setelah lulus sekolah serta membantu orang tuanya,” jelas Farid.

Sepuluh jurusan yang dimiliki SMK PGRI 1 Ngawi atau SMK Grisa Ngawi yaitu DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan), KGSP (Konstruksi Gedung Sanitasi dan Perawatan),  TOI (Teknik Otomasi Industri), TITL (Teknik Instalasi Tenaga Listrik), Teknik pemesinan,Teknik kendaraan ringan, Teknik komputer jaringan, Teknik bisnis sepeda motor, Multimedia/DKV dan Perhotelan.

“Demi menarik generasi muda, kami menyediakan 10 jurusan sesuai kebutuhan dan minat para pelajar. Sehingga alhamdulillah sekolah ini tidak pernah kekurangan murid. Justru bertambah tiap tahunnya,” ungkap Farid yang dulunya seorang guru produktif DPIB/ KGSP di SMK Grisa Ngawi

“Untuk jurusan KGSP dan TOI, pihak kami menerapkan 4 tahun baru lulus. Yakni belajar di sekolah 3 tahun dan 1 tahun magang di perusahaan yang sesuai dengan jurusannya. Sehingga nantinya diharapkan para siswa siap bekerja begitu lulus,” jelas Farid yang sejak Januari 2022 menjabat Kepala SMK Grisa Ngawi.

Farid menyebutkan bahwa keterbukaan juga komunikasi dikedepankan dalam mengelola sekolahnya. Hal ini dilakukan agar dapat menjalin atau memantau siswanya yang telah lulus dan bekerja, minimal selama 6 bulan ke depan.

“Kami tidak langsung melepas begitu saja para alumni yang telah bekerja. Kami tetap menjalin komunikasi dan memantau minimal 6 bulan ke depan. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu daya tarik sekolah kami sehingga banyak remaja yang ingin sekolah di sini,” tutur Farid menutup pembicaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *