Shasika Rani Hobi Main Leng Sejak SD

Penulis:   NEP | Editor:  Naim Emel Prahana
oleh
Shasika Rani sedang berjuang untuk lolos ke semifinal Lomba Leng Kalaborasi I 2022 se Kota Metro. Ternyata perjuangannya tidak sia-sia, Shasika lolos ke babak berikutnya. Foto: NEP/Rahmat/Metasatu.com

METRO, Metasatu.com – Di hari keenam Turnamen Leng I Kalaborasi dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober 2022, ternyata antusias masyarakat yang mengikuti ‘lomba’ tersebut, pusat perhatian peserta yang umumnya kaum Adam tertuju di salah satu meja lomba. Di meja tersebut ada seorang gadis sedang berjuang untuk lolos dan lomba Leng Kalaborasi I 2022 tingkat Kota Metro.

Kenapa jadi heboh, yah kehadiran seorang wanita berumur 32 tahun mampu menyedot perhatian penggemar leng se Kota Metro. Wanita itu tak lain tak bukan adalah Shasika Rani yang lahir 18 September 1990 di Kota Metro.

Dalam percakapan dengan Metasatu.com wanita yang murah senyum itu, ternyata berdarah ayah dari Palembang (Sumatera Selatan) dan ibu dari Labuhan Maringgai (Lampung).

Warga Jalan Pala, Kelurahan Iringmulyo, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro atau dikenal dengan sebutan Kampung Banten itu, bercerita tentang suka dukanya menjadi pemain leng atau gaplek yang jarang diikuti kaum hawa. Mulanya, akui Shasika Rani sejak Sekolah Dasar (SD) ia sudah menyukai permainan leng, remi, gaple, catur dan bulutangkis.

Di balik senyumnya yang ramah itu, ternyata Shasika Rani mengatakan jenis permainan yang ia sukai, khususnya gaple dan leng lebih banyak sukanya. Kalau duka nyaris tidak ada.

“Mungkin hobby saya ini sudah keturunan dari Datuk,”ungkap Shasika Rani seraya tersenyum yang diselang-selingin tertawa jika ada obrolan yang ngetrend.

Di usia ke 32 masih gadis tingting alias berumah berumah tangga, dan ketika ditanya kapan berumah tangga? Shasika menjawab apa adanya,

“Rencana sih tahun depan. Tapi, itu kalau ada jodoh. Andaikan ada jodoh besok, yang saya mau nikah,” gelak tawa Shasika memecah kesunyian malam di Destinasi Wisata Dewi Amor, tempat berlangsungnya Turnamen Leng Kalaborasi 1 Yosomulyo 2022.

Shasika Rani tak segan-segan menceritakan perjalanan hidup yang pernah ia alami. Shasika menceritakan pada tahun 2005, ia hampir tewas dicacah pencuri yang masuk ke rumahnya.

“Pencuri itu memegang tatah kayu, kepala saya penuh dengan lubang. Saya selamat, karena malam itu saya pura-pura sudah mati,” kenang Shasika Rani saat bincang-bincang asyik di dekat Dapur KopiYos (Komunitas Peduli Yosomulyo) di kawasan Amor, Metro Pusat.

Malam kemarin, Senin malam Selasa (26/9/2022) Shasika bercerita panjang dengan lugunya wanita berdarah Palembang—Lampung itu mengungkap kehidupan dirinya sebelum 2022.

Ternyata, Shasika Rani yang menurutnya punya arti pendekar wanita yang disematkan oleh datuknya. Setelah dicacah pencuri yang masuk rumah, kemudian pencuri itu diketahui tetangga samping rumah. Shasika mengalami kecelakaan motor. Ia bertabrakan dengan motor lain. Menurut Shasika, daripada dirinya yang ditabrak lari, lebih baik dia menabrak pengendara motor lainnya.

“Waktu itu tahun 2006 yang mengakibatkan bahu saya patah, dan luka di bagian piipi sebelah kanan,” masih dalam kenangan Shasika Rani.

 

Saya Hobi Leng

Menurut Shasika, ia memang hobi main yang mengandalkan pikiran. Tak heran setiap ada lomba Leng, Gaple atau remi ia selalu ikut serta. Mulai dari tingkat RT sampai Kota dan Kabupaten. Disinggung, kenapa ia tak bergabung dengan Cabang olahraga Bridge. Shasika dengan polos mengakui ia belum tahu caranya.

“Keinginan sih ada ke sana. Saya mau mengikuti turnamen resmi seperti Porkota, Porprov maupun PON,” ungkap Shasika sambil menenggak minuman kesukaannya air jeruk panas.

Ketika Metasatu menanyakan, sampai kapan ia akan menggeluti hobbynya main leng, gaple dan remi? Shasika menjawab apa adanya, “Saya akan bermain terus yang penting tetap sehat,” akui dia.

Gaya cuek, polos dan lugu itulah yang membuat kehadiran Shasika Rani di Turnamen Leng Kalaborasi I Yosomulyo menjadi sorotan para peserta lainnya yang berjumlah sekitar 757 peserta yang akan bergelut memperebutkan hadiah-hadiah menarik, antara lain sepeda motor, magic com, kipas angin berdiri, sepeda gunung dan hadiah doorprize lainnya.

Dengan mengenakan celanan panjang warna cream, atasan kaos warna putih dengan lis hitam. Terlihat jelas talenta atlet pada diri Shasika Rani yang luar biasa. Tinggalk menunggu polesan seorang pelatih atau pembina.

Gadis yang menamatkan sekolah di SMK Negeri 1 Metro itu, jika hobinya memanggil, ia siap begadang hingga larut malam.

Dalam trunamen leng I Kalaborasi, Shasika Rani lolos ke semifinal, keberadaannya di kawasan Dewi Amor untuk memantau lawan mainnya di semifinal yang didampingi beberapa pamannya—juga, ikut menjadi peserta.

Walaupun ia seorang diri mengikuti berbagai lomba leng selama ini di tengah peserta yang umumnya kaum Adam (pria), Shasika Rani tak pernah merasa canggung. Kalaupun ia cuek, bukan berarti Shasika Rani sombong. Seperti saat ngobrol dengan Metasatu kemarin malam.

“Selamat ya Rani,” ujar Sekretaris Panitia, Verry Sudarto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *