Puisi “Minyak Goreng Memanggil”, Potret Kegelisahan Penyair

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Tangkap layar acara pembacaan puisi rakyat.

JAKARTA, Metasatu.com  –

“ketika kini minyak goreng langka

harganya pun tak biasa, teringat

masa remaja saat ingin sekolah

atau bertemu calon kekasih…”

Puisi berjudul Hikayat Minyak Goreng episode 10 karya Isbedy Stiawan ZS tersebut merupakan salah satu karya yang dibacakan pada acara bertajuk Puisi Rakyat: Minyak Goreng Memanggil, Selasa (31/5/2022) malam.

Puluhan penyair dari berbagai daerah tampak hikmat menyeru kegundahannya menyikapi karut-marut minyak goreng yang terjadi sejak akhir 2021 dan masih belum teratasi hingga saat ini. sebut saja Nanang R Suprihatin (Jakarta), Wanto Tirta (Banyumas), Yuliani Kumudaswari (Semarang) Fitri Angraini (Lampung) , Agusri Junaidi (Lampung) Yin Ude (NTB), dll.

Pentas pembacaan puisi virtual melalui aplikasi G-meet cukup menarik. Di tangan para penyair, persoalan minyak goreng bisa dijadikan ‘cermin’ untuk membahas hal apa pun, dari cinta hingga protes sosial.

“Penyair harus mengasah hatinya agar terus dapat menyuarakan keberpihakannya pada rakyat kecil, termasuk dalam persoalan minyak goreng,” ujar Isbedy yang menjadi host acara tersebut.

Penyair, juga sastrawan pada umumnya, harus berani turun dari menara gading, melihat langsung penderitaan rakyat, memotret dan menyuarakannya. “Tidak hanya menulis yang wangi saja,” tambah Paus Sastra Lampung tersebut.

Sementara Mustafa Ismail, selaku penggagas kegiatan, mengatakan puisi-puisi yang dibacakan diambil dari antologi puisi Minyak Goreng Memanggil. Kegiatan tersebut akan terus digulirkan.

“Kita sudah menggagas rencana pementasan di Jakarta. Karena temanya puisi rakyat, maka kita akan pentas di tempat yang dekat dengan rakyat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.