Peternak Sapi di Ngawi Minta Pemerintah Fasilitasi Pengobatan PMK

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan ternak. Foto: Ist

NGAWI, Metasatu.com – Meski belum termasuk wilayah pandemi, namun populasi sapi yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah Kabupaten Ngawi sudah cukup tinggi. Peternak berharap pemerintah bergerak cepat dengan memfasilitasi  pengobatan ternak yang sudah terjangkit PMK.

Menurut  Indra Budi Kurniawan, salah satu peternak sapi di Kecamatan Padas, Ngawi, saat ini sedikitnya sudah ada 55 sapi yang terpapar PMK. Sesuai imbauan dari dinas terkait, sapi yang sudah terpapar diobati dengan cara disuntik atau inject dan obat-obatan lainnya.

“Saran dr dinas, mulut dan hidung sapi yang mengalami lesi (lepuh) disemprot menggunakan air yang dicampur citrun. Untuk luka di kaki diolesi atau disemprot dengan cairan tembaga sulfat. Selebihnya adalah pengobatan dari dalam melalui inject atau suntikan,” ujar Budi kepada Metasatu, Selasa (5/7/2022) malam.

Namun inject hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan hewan. Sementara tenaga kesehatan hewan minim. Budi sendiri mengaku terpaksa menggunakan tenaga kesehatan hewan dari luar daerah dengan biata Rp 70 ribu untuk sekali suntik.

“Padahal, dari informasi yang saya dapat, sapi yang sudah terpapar PMK setidaknya harus disuntik 3 kali,” terang Budi.

Hal ini yang kemudian menjadi kendala di lapangan. Banyak peternak yang kesulitan mendapat pengobatan untuk ternaknya yang sduah terpapar.

“Menurut saya pemerintah jangan hanya fokus pada vaksin untuk sapi yang sehat saja, tetapi juga pengobatan untuk sapi-sapi yang sudah terpapar,” harap Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.