Nostalgia Zaman Orde Baru di Museum Penerangan TMII

Penulis:   Taufik Hidayat | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Diorama Pak Harto dan Bu Tien didampingi Harmoko. Foto: Taufik Hidayat

JAKARTA, Metasatu.com – Taman Mini Indonesia merupakan tempat wisata budaya dan edukasi serta hiburan yang sudah sejak lama hadir di Jakarta. Tempat ini dibangun pada 1975 dan pada awalnya sempat menimbulkan kontroversi mengingat biaya pembangunannya yang cukup besar. Namun Ibu Tien Suharto yang mempunyai visi jauh ke depan memang telah mewariskan TMII buat kita semua.

Ketika Metasatu berkunjung ke TMII, Sabtu (26/3/2022), pintu masuk utama ternyata ditutup dan pengunjung bisa masuk melalui pintu 3. Rupanya sedang dilakukan renovasi besar-besaran di. Hampir semua fasilitas di TMII sepanjang pintu 3 menuju ke Museum Penerangan, terutama di sekitar Tugu Api Pancasila sedang direnovasi.  Banyak kendaraan besar serta alat-alat berat dan para pekerja yang sedang sibuk bekerja.

Museum Indonesia yang memiliki arsitektur Bali juga sedang direnovasi, demikian juga dengan beberapa paviliun daerah di sekitarnya.  Namun masih banyak juga fasilitas di TMII yang buka dan melayani pengunjung. Salah satunya adalah Museum Penerangan.  Di halaman museum ini terdapat sebuah tugu Api Tak Kunjung Padam yang dikelilingi oleh Patung 5 Juru Penerangan. Sekilas gedungnya cukup megah dan sangat terawat baik.

Pengunjung dapat masuk ke museum ini dengan gratis, yang diperlukan hanya cek suhu badan di pintu masuk dan menerapkan protokol Kesehatan sepeti memakai masker dan menjaga jarak.  Beranda museum pagi itu masih sepi dan belum banyak pengunjung. Dilan, resepsionis di museum ini menjelaskan, renovasi di TMII sudah dimulai sekitar awal Februari lalu dan melihat masif dan luasnya pekerjaan diperkirakan akan memakan watu yang cukup lama.

Di ruang utama museum, Dean, petugas museum sekaligus pemandu wisata sudah siap menjelaskan sekilas mengenai sejarah Museum Penerangan dan artefak serta benda-benda yang dipamerkan.

“Museum ini didirikan pada 1993 di zaman Presiden Soeharto dan sempat mengalami pasang surut seusai perkembangan zaman,” jelas Dean.

Di dalam museum, pengunjung dapat lebih mengenak berbagai jenis alat komunikasi dari masa ke masa, baik dari bentuk yang paling sederhana seperti kentungan, hingga surat kabar, majalah, radio, Televisi, film hingga era informasi yang serba canggih.

Di sini, pengunjung juga bisa berkenalan dengan sosok dan tokoh yang memainkan peran penting dalam sejarah informasi dan informatika di negeri ini terutama para tokoh yang pernah menjadi Menteri Penerangan sejak Indonesia merdeka hingga Menteri Informasi dan Informatika saat ini.

Selain itu kita juga bisa melihat kembali tokoh film zaman dahulu seperti Usmar Ismail yang bahkan sudah diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan film Tiga Dara-nya yang fenomenal.

“Di sini juga disimpan kamera tua yang pernah dipakai Usmar Ismail untuk film Darah dan Doa (1950) yang bersejarah sehingga tanggal 30 Maret,  yang merupakan hari pertama pembuatan film tersebut, dijadikan Hari film Nasional,” tambah Dean.

Bagi yang sekedar ingin bernostalgia, bisa juga berkunjung ke replika studio TVRI zaman dulu dan bahkan ada juga studio Si Unyil dengan deretan boneka yang pernah hinggap di hati anak-anak Indonesia tahun 1980-an.

Masih banyak lagi yang dapat disaksikan di Museum Penerangan ini termasuk diorama Pak Harto dan Bu Tien yang didamping Menteri Penerangan Harmoko ketika memberikan penghargaan kepada salah satu Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa,). Kelompencapir merupakan salah satu istilah yang sangat terkenal di masa Orde Baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.