MOBI, Secercah Harapan Buat Penderita Diabetes

Penulis:   Taufik Hidayat | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Eko Yudho Tamtomo, pendiri MOBI. Foto: Dokpri/Ist

JAKARTA, Metasatu.com – Diabetes adalah ibu dari segala macam penyakit. Demikian pendapat umum yang berkembang di tengah masyarakat termasuk dunia kesehatan. Diabetes juga dipercaya sebagai suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Penderita diabetes atau diabetesi harus terus hidup dengan penyakit tersebut sepanjang hayat dan diharuskan menjaga gula darah dengan menjaga pola makan, berolahraga, mengelola stres serta mengonsumsi obat-obatan.

Penderita diabates juga diintai penyakit turunannya seperti kebutaan atau glaukoma, gagal ginjal, penyakit jantung, dan lain-lain.

Akan tetapi, Miracle of Breath Indonesia atau lebih sering disebut MOBI memiliki keyakinan berbeda. MOBI yakin bahwa diabetes dan berbagai penyakit turunannya bisa disembuhkan.

Komunitas yang dipelopori Eko Yudho Tamtomo ini sudah membuktikan, diabetes bisa disembuhkan tanpa obat, ramuan atau alat. Caranya sederhana, walau harus dilakukan dengan disiplin dan sepenuh hati.

MOBI memiliki tujuan yang mulia untuk mewartakan berita gembira bahwa diabetes bisa disembuhkan dengan cara mengikuti pola makan baru (PMB), Intermittent Fasting (IF) dan olah napas.

Metasatu merasa beruntung bisa langsung bertukar pikiran sekaligus mendapatkan informasi yang lumayan lengkap tentang MOBI dan segala aktivitasnya dengan mewawancarai pencetus sekaligus pendiri MOBI, Eko Yudho Tamtomo, beserta salah seorang mentor, Untung Lusianto, melalui fasilitas teleconference. Eko Yudha berdomisili di Pontianak sementara Untung Lusianto sedang berada di Bandung walaupun berdomisili di Cibinong, Bogor.

“Semuanya dimulai ketika saya dirawat di rumah sakit ,” tutur Eko memulai kisahnya.

Menurut Eko, selain meninggal dunia hanya ada dua alasan orang yang dirawat pergi meninggalkan rumah sakit: sembuh atau kehabisan biaya. Karena itu Eko berniat untuk bisa banyak membantu orang sehingga sebisa mungkin bebas atau sembuh dari penyakit degeneratif seperti diabetes dan turunannya.

Uniknya, Eko sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang medis atau kedokteran. Dia memiliki latar belakang pendidikan ekonomi namun memiliki interes yang besar di dunia medis. Eko juga bercerita bahwa dia banyak membaca jurnal dan penelitian mengenai berbagai macam penyakit dan pengobatan.

Sekitar 5 tahun yang lalu MOBI didirikan dan berawal dari pengetahuan dan pengalaman Eko mendalami ilmu pernapasan untuk bela diri dan kebugaran. Cikal bakal MOBI ini muncul di Universitas Tanjung Pura di Pontianak di mana Eko mulai melatih pernapasan untuk kebugaran dan kemudian menjadi komunitas untuk penyembuhan.

“Musuh utama diabetes adalah karbohidrat,” lanjut Eko.

Oleh karenanya penderita diabates harus meniadakan asupan karbohidrat seperti dijabarkan dalam PMB. Salah satu bukti nyata tentang bahaya karbohidrat adalah suku Inuit yang tinggal di kawasan Kutub Utara. Selama ribuan tahun mereka hidup dengan berburu dan menjadi pemakan daging sehingga disebut juga suku Eskimo oleh orang Denmark dan Perancis yang artinya pemakan daging.

Nah selama mereka menjadi pemakan daging, rata-rata orang suku Inuit memiliki tingkat kesehatan yang baik dan jarang terkena penyakit degeneratif, Namun ketika modernisasi mulai melanda dan mereka mulai mengenal makanan dari tumbuhan yang mengandung karbohidrat, penyakit degeneratif seperti diabetes dan turunannya juga mulai menghampiri mereka.

Pada awalnya MOBI hanya ada di Pontianak karena pelatihannya diadakan secara tatap muka. Terlebih pesertanya juga masih sangat terbatas. Namun sejak pandemi Covid-19, mulai melanda Indonesia awal 2020, segala kegiatan tatap muka di kawasan Universitas Tanjung Pura pun dilarang.

Sebagai jalan keluarnya, mulailah pelatihan MOBI diadakan secara daring dan dampak positifnya adalah jumlah peserta meningkat dengan cepat dan mencakup seluruh wilayah Indonesia bahkan sebagian peserta tinggal di luar negeri.

Ketika ditanya berapa rata-rata tingkat kesembuhan dari sekian banyak peserta pelatihan. Eko menyebutkan angka 30-40 persen.

“Hal ini dikarenakan yang bisa membuat sembuh sesungguhnya adalah peserta sendiri dengan mengikuti segala arahan dan peraturan dalam pelatihan secara disiplin,” tambah Eko.

Sementara itu, Untung Lusianto (61), yang menjadi salah satu mentor di pelatihan MOBI menjelaskan, dia sudah terkena diabetes lebih 25 tahun. Segala macam pengobatan telah dicoba, namun seperti vonis dokter, penyakit itu setia menemaninya.

“Saya bergabung di MOBI mulai Aril 2021 dan ketika itu tingkat gula darah saya lumayan tinggi,” ujar Untung memberikan testimoni.

Untung juga bercerita bahwa dia menjadi mentor karena ingin membantu orang banyak bisa melawan diabetes seperti dirinya. Banyak kendala yang harus dihadapi selama menjadi mentor karena harus melayani banyak peserta yakni 100 orang setia p angkatan, dengan latar belakang budaya, pengetahuan dan sifat yang berbeda.

“Selain alumni MOBI, salah satu syarat menjadi mentor adalah memiliki kesabaran dan passion,” terang Eko.

Baik Eko maupun Untung mengisahkan banyaknya kendala dalam menjalankan pelatihan di MOBI.

“Salah satunya adalah asumsi umum yang menghakimi diabetes sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” ujar Eko sambil menjelaskan banyak juga yang sempat meragukan kredibilitas dirinya yang sama sekali tidak memunyai latar belakang pendidikan medis.

“Saya juga mengalami pasang surut dalam mengikuti pelatihan di MOBI, terutama ketika gula darah saya susah turun lagi ketika jeda dari PMB dan Intemittent Fasting ke latihan pernapasan,” kata Untung.
Eko mengapresiasi upaya Metasatu untuk ikut mengabarkan tentang MOBI.

“Semoga Metasatu bisa menjadi jembatan yang menghubungkan MOBI dengan masyarakat diabetesi di luar sana,” harap Eko sebagai penutup diskusi yang berlangsung selama hampir satu setengah jam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.