Mengenal Cara Bercocok-tanam Suku Iban di Kalbar

Penulis:   Subiyanto | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Orang Iban sedang menanam padi. Foto: Yanto

KAPUAS HULU, Metasatu.com – Rintae pengawa bumae betaun (siklus beladang setahun) sampai saat ini masih dilestarikan. Biasanya kepala rumah betang yang disebut Tuai akan menandai lokasi yang akan dijadikan ladang dengan menuangkan air tuak.

Dimulai dari pembersihan, pembuatan sekat api, persiapan alat pemadam dari bambu, hingga pembakaran ada tata cara orang Iban berladang. Jika semua itu dijalankan sesuai tradisi yang diajar kan turun-temurun dari leluhurnya, konon akan menjamin pembakaran lahan atau nunu tidak akan menjalar.

Nunu merupakan satu dari siklus berladang suku Dayak Iban yang penuh dengan nilai adat dan budaya. Mulai dari ngerunsur aie, yakni kegiatan membersihkan dan meng usir segala penyakit dan hama yang merugikan dari wilayah sungai Utik. Ngerunsur aie dilakukan sebelum ngintu tanah yakni minta restu kepada petara tanah, agar tanah manjadi subur dan tidak ada hama lagi.

Masyarakat Suku Iban kemudian menggelar manggul jalai, suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberi tanda kepada petara atau leluhur bahwa jalan ladang sudah ditandai, agar petara atau leluhur tahu tempat ladang dan supaya mereka dapat memberi sesuatu.

Kendati menganut sistem ladang berpindah tetapi tidak sembarang tempat yang dijadikan tempat berladang. Suku Iban melakukan neggah ambo untuk melihat tempat ladang yang akan dijadikan ladang oleh masyarakat. Setelah melihat kepastian tempat, suku Iban kembali menggelar acara adat yang disebut nganjung batu panggul.

Setelah serangkai prosesi itu, kegiatan berladang atau membuka ladang baru dilakukan. Membuka lahan juga ada langkah-langkahnya, di antaranya menebas untuk membuka ladang,dengan cara menebas semak belukar. Kemudian nebang untuk menebang kayu yang besar yang di tinggalkan masa menebas.

Ladang yang sudah ditebang dikeringkan atau disebut ngerangkae kereban. Waktunya buisa sampai satu bulan. Sambil menunggu saat pembakaran, biasanya laki-laki Iban di Puting Kencana, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat  akan merantau hingga ke Serawak, Malaysia.

Hal ini dimungkinkan karena jaraknya yang dekat. Mereka pulang-pergi melalui jalan tikus karena di daerah Puring Kencana belum ada Pos Pelintas Batas Negara (PLBN).

Setalah ladang kering, orang Iban melakukan ngelade’, yakni memba tasi ladang yang akan dibakar oleh masyarakat supaya hasil pembakaran tidak merembet ke tempat lain. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebelum membakar ladang atau nunu.

Setelah membakar selesai dan api sudah padam, pemilik tidak boleh ke ladang, istilahnya mali antu. Kecuali keadaan memaksakan, misalnya api ternyata masih merembet ke tempat lain.

Setelah mali antu, dilakukan manggul tegalan atau juga disebut nyapek tanah atau memberi sesajian kepada tanah agar tanah menjadi subur. Kemudian betanam dan nugal untuk menanam benih-benih yang sudah dipilih seperti pulut, padi mudah, dan padi pon. Orang Iban juga menanam sengkenyang, yakni obatobat tanah. Sebagai penutup selesai menanam dan menugal, dilakukan basok arang seraya berdoa kepada leluhur untuk meminta agar padi tumbuh subur.

Kini, siklus adat Dayak Iban itu terusik dengan Maklumat Bersama tentang Larangan Pembakaran Hutan dan Lahan/Kebun. Padahal, bagi orang Iban, siklus adat tersebut merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari..

“Tanah to indae kitae,” Rangga, warga Sungai Utik, seperti dikutip dari Republika.

Bagi orang Iban, tanah adalah ibu yang memberi makan seharihari. Oleh karenanya tanah bersama isinya tak boleh diambil dengan serakah karena tanah bisa marah kalau tidak dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *