Komunitas Sangkanparan Cilacap, Konsisten Berkarya dan Berjejaring

Penulis:   Gita Fetty Utami | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Salah satu kegiatan Sangkanparan. Foto: Dok. Komunitas Sangkanparan

Metasatu.com — Wilayah Cilacap yang luas sejatinya menyimpan potensi dari para pelaku seni. Ada perorangan, banyak pula yang membentuk komunitas. Salah satu komunitas di bidang seni visual yang cukup menonjol adalah Sangkanparan.

Komunitas ini mewadahi para pelajar berkarya di berbagai bidang kreatif, termasuk film. Para pelajar datang tidak hanya dari Cilacap tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Majenang, Kawunganten, Banjarnegara, Gombong, Kebumen serta Pekalongan.

Sudah lebih dari 5 tahun, Komunitas Sangkanparan menjadi tempat Program Praktek Kerja Industri (Prakerin) pelajar SMA/SMK dari berbagai wilayah yang tersebut diatas. Kurangnya tempat Prakerin bagi pelajar di Cilacap dan sekitarnya, membuat Sangkanparan menjadi sentra dari kegiatan praktek tersebut.

Dengan segala keterbatasannya, Sangkanparan mencoba untuk membantu para siswa agar mendapatkan pengalaman kerja kreatif yang layak. Melalui berbagai program seperti menonton dan mengkaji film, menggali ide, pengenalan kamera, tekhnik pengambilan gambar, riset, penulisan skenario, penyutradaraan, produksi film, editing, sampai pada proses pemutaran film dan mempresentasikannya dihadapan masyarakat luas.

Banyak karya film pendek yang dihasilkan dalam program ini dan telah banyak mewarnai berbagai ajang festival film di tanah air, bahkan tak sedikit pula yang mendapat penghargaan.

Tahun 2017, film pendek berjudul Urut Sewu Bercerita karya Dewi Nur Aeni, siswi SMKN 1 Kebumen, menjadi Official Selection di Singapore International Film Festival 2017. Selain itu, banyak pelajar didikan Sangkanparan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sangkanparan pun tercatat beberapa kali melakukan program kerja bareng dengan instansi pemerintah daerah. Antara lain program Cilacap Heritage Fellowship Program, yang diselenggarakan pada bulan Agustus-September 2019, dengan dukungan dari Direktorat Sejarah Kemedikbud RI. Program ini terselenggara atas dasar rasa keprihatinan akan kurangnya sumber sejarah tercatat di Cilacap.

Untuk menggali lebih dalam rekam jejaknya, Gita Fetty Utami dari Metasatu berkesempatan mewawancarai pendiri komunitas Sangkanparan Insan Indah Pribadi, Rabu (29/12/2021) lalu. Berikut petikannya :

Mas Insan, kita kilas balik dulu ya, untuk pembaca Metasatu. Bisa ceritakan secara ringkas, bagaimana awal berdirinya Sangkanparan? Termasuk apa filosofi di balik nama ini?

Sebenarnya Komunitas Sangkanparan ini sudah ada sejak 2002. saat saya masih kuliah di ASDI (Akademi Seni & Desain Indonesia) Solo. aktivitasnya lebih banyak pada kajian desain grafis dan audio visual.

Sangkanparan sendiri memiliki arti Asal Mula. Kalau dalam falsafah jawa, eh apa dunia pewayangan gitu, ada istilah Sangkanparaning Dumadi yang artinya asal mula terjadinya. Hingga pada akhirnya, nama Sangkanparan selalu saya bawa kemana-mana dalam setiap karya.

Lalu pada tahun 2006 mulai aktif di Cilacap. Bertemu dengan teman-teman, hingga kini beraktifitas selalu menggunakan nama Sangkanparan. Berkembang tidak hanya pada aktivitas desain grafis, namun juga audio visual, musik, dan seni pertunjukan.

Sadar akan pentingnya wadah beraktivitas, mulai 2019 komunitas Sangkanparan berbadan hukum (Akta Notaris & Kemkumham RI).

Apa yang membuat Mas Insan kukuh memilih jalan sebagai pelaku seni perfilman? Ada idealisme tertentu, barangkali?

Kalau dibilang kukuh memilih jalan di bidang film mungkin karena sebenarnya tidak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan selain beraktivitas atau berkutat dengan kegiatan membuat karya yang lagi-lagi kategorinya film. Pengin bertani, tidak punya kemampuan mengolah tanah. Ya, akhirnya lebih banyak beraktivitas di audio visual.

Sejak 2006 saya merasa nyaman beraktivitas dan berkarya dalam bidang desain grafis & audio visual. Bahkan sejak saat itu sekitar 2008 saya bersama teman-teman sudah mulai memfasilitasi beberapa pelajar bikin film. Hingga pada akhirnya banyak pelajar dari berbagai daerah yang tiap tahun berdatangan ke Sangkanparan untuk belajar bikin film.

Alhamdulillah dari tahun ke tahun, karya-karya yang dihasilkan anak didik Sangkanparan meraih beberapa penghargaan di beberapa ajang Festival Film di Indonesia. Hal ini yang mungkin secara tidak langsung melekat pada diri saya, sehingga sangat tidak mungkin saya lepaskan. Istilahnya, sudah kadung orang-orang mengenal saya sebagai pelaku seni di bidang udio visual. Mau gimana lagi…hehe

Dari mana modal untuk menghidupi komunitas ini, Mas?

Aktivitas di komunitas Sangkanparan kami jalankan dengan penuh sukacita, tanpa beban. Dan saya merasa bahwa Tuhan memberikan saya modal berupa daya karya, rasa dan karsa. Semua kegiatan belajar mengajar, fasilitasi pendampingan film pelajar, dll, yang berjalan di Sangkanparan tidak dipungut biaya. Itulah yang saya bingung. Bisa saja tiap tahun terwujud atau lahir karya-karya yang luar biasa dari adik-adik pelajar yang datang ke Sangkanparan. Mungkin karena sponsor utama yang Maha Luar Biasa dahsyat; Gusti Allah.

Apakah keluarga Mas Insan memberikan dukungan penuh?

Alhamdulillah mendukung, meski kondisi keluarga serba cukup dan apa adanya

Selama sekian belas tahun berkarya, hambatan terbesar apa yang pernah Mas Insan hadapi?

Hambatan sebenarnya pada menjaga kepercayaan dan hubungan baik. Ini sulit sekali. Saya tidak bisa memaksa agar teman-teman tetap berada atau mengurus roda pergerakan komunitas Sangkanparan dengan gaya saya yang serba apa adanya. Apalagi dalam berkarya, mungkin bisa saja saya berjalan sendiri mewujudkan karya personal. Tapi saya menyadari sepenuhnya pasti karya yang lahir nantinya terkesan egois karena tidak melibatkan kebersamaan teman-teman. Nah, krisis kepercayaan, atau istilahnya perasaan-perasaan seperti itu yang selalu menghambat saya dalam berkarya. Sehingga banyak sekali ide-ide yang tertunda atau mandeg karena tidak berani untuk dieksekusi.

Ada berapa jumlah pengurus di komunitas, Mas?

Kalau yang tertulis di badan hukum sih,  empat orang. Kang Darman sebagai penasehat ketua. Mas Tofik sebagai sekretaris. Dan Mba Chaira sebagai bendahara. Tapi kalau fasilitator, koordinator harian dan kegiatan ada banyak seperti  Bang Teguh, Nur Fitri, Muslihan, Putro, dll

Bagaimana caranya Mas Insan merajut jaringan dengan komunitas lain?

Biasa aja sih. Ngobrol, saling berbagi, mendukung program masing-masing komunitas. Saling mengunjungi dan hadir dalam kegiatan teman-teman komunitas. Begitu dan seterusnya saling dukung antar komunitas. Sehingga terjalin silaturahmi dan kebersamaan yang tidak putus. Malah kadang muncul hal-hal baru yang akhirnya dikerjakan bersama.

(Berkat aktivitasnya bersama Sangkanparan, nama Insan Indah Pribadi kian dikenal banyak kalangan utamanya di Cilacap. Pada tanggal 15 Desember 2020, ia diundang oleh Disporapar Cilacap, bersama sejumlah pelaku ekonomi kreatif lain, di Java Resto. Pada hari itu juga terbentuk Komite Ekonomi Kreatif/KEK, dengan mendapuk Insan Indah Pribadi sebagai ketua, periode 2020-2025).

Mas Insan kita menyimpang sebentar, nih. Bagaimana caranya pelaku usaha mikro yang ingin namanya terdata di KEK?

Mungkin untuk saat ini KEK blm memiliki kekuatan dalam melakukan pendataan kembali. Itu karena tidak semua pengurus mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat free, apa adanya. Perlu ada dukungan minimal tertanggung biaya akomodasi, dll. Rasanya seperti hal sepele mungkin, tapi ini bisa menjadi sensitif. Kita semua perlu hati-hati dalam menyikapi.

Apakah ada fasilitas berkelanjutan yang diterima oleh pelaku usaha yang sudah terdata KEK?

Nah, itulah hal yang kita inginkan bersama. Hal ini belum bisa terjawab. Apakah nantinya KEK memiliki kekuatan sampai sebegitunya. Sebenarnya KEK itu ya cuma komite biasa macam komite sekolah. Kami cuma bertugas menyampaikan ke dinas terkait.

Sebagai penutup, apa impian Mas Insan yang masih ingin dicapai, terkait aktivitas di Sangkanparan, keluarga, masyarakat?

Kalau untuk saat ini, saya berharap semua pelaku seni, pelaku Ekraf, atau apa pun sebutannyalah, dari berbagai sektor, bisa saling support. Agar roda perekonomian untuk kita yang memiliki usaha dapat terus berjalan sehingga kebutuhan dapat tercukupi.

Selanjutnya impian untuk keluarga. Semoga ke depan entah kapan, saat dewasa nanti mungkin, bisa jadi saat saya tidak ada, anak-anak saya kelak bertemu dengan orang-orang baik, yang mau memperhatikan dan memberi dukungan untuk  berkembang. Sama seperti halnya seperti saya memperlakukan anak-anak yang datang padaku saat ini. Meski yang saya beri hanya apa adanya.

Insan menambahkan pada Metasatu, proyek film terbaru Sangkanparan baru saja usai proses syuting. Film musikal sejarah berjudul “Maos” ini kini tengah menjalani proses editing. Rencananya akan ditayangkan pada Januari 2022. Film yang layak ditunggu oleh warga Cilacap dan pencinta film tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.