Kolonel Priyanto Divonis Seumur Hidup dan Dipecat dari TNI

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Kolonel Priyanto saat mendengarkan vonis dalam sidang di Mahkamah Militer. Foto: ist

JAKARTA, Metasatu.com – Masih ingat penabrak Handi dan Salsabila di Nagreg, Jawa Tengah, 8 Desember 2021 lalu di mana Kolonel Infanteri Prayitno bersama dua anak buahnya, Kopda Andreas Dwi Atmoko dan Koptu Ahmad Soleh, kemudian membuang sejoli itu ke Sungai Serayu di Jawa Tengah.

Dalam sidang pembacaan vonis di Pengadilan Militer Tinggi II Cakung, jakarta Timur, Selasa (7/6/2022), Kolonel Infanteri Priyanto divonis penjara seumur hidup dan dipecat dari institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD).

Priyanto dinilai terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana, merampas hak orang lain, dan menghilangkan mayat.

“Menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa berupa pidana pokok penjara seumur hidup. Pidana tambahan, (terdakwa) dipecat dari dinas militer,” kata hakim ketua Brigadir Jenderal Faridah Faisal.

Faridah juga memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan.

Vonis tersebut sama dengan tuntutan yang dibacakan oditur militer sebelumnya. Priyanto dinilai terbukti secara sah dan menyakinkan bersama-sama melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, melakukan penculikan, dan menyembunyikan mayat.

Kasus ini berawal ketika Priyanto bersama dua anak buahnya melewati Nagreg hendak menuju Yogyakarta menggunakan mobil Isuzu Panther sekira pukul 15.30 WIB.

Mobil kemudian bertabrakan dengan motor Satria FU yang dikendarai Handi dan Salsabila. Priyanto memerintahkan anak buahnya untuk membuang kedua korban meski ia mendapat saran untuk membawa Handi dan Salsabila ke rumah sakit terlebih dulu. Namun, hal itu tidak digubris Priyanto. Kedua korban kemudian dibuang ke Sungai Serayu.

Disebutkan, Handi dibuang dalam keadaan masih hidup. Sementara itu, Salsabila dibuang dalam keadaan sudah meninggal.

Dalam nota pembelaannya, Priyanto menolak dakwaan pembunuhan berencana dan penculikan. Hal itu disampaikan kuasa hukum Priyanto, Letda Chk Aleksander Sitepu.

Menurut Priyanto, dakwaan kesatu primer Pasal 340 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan Berencana dan dakwaan kedua alternatif pertama Pasal 328 KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP tentang Penculikan tidak terbukti.

Kuasa hukumnya juga sempat meminta keringan mengingat Priyanto pernah mengabdi kepada negara, termasuk ikut bertempur dalam operasi Seroja di Timor Rimur (kini Timor Leste).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.