Karena Pejabat Pengadaan Baru, Truk Sampah Tidak Beroperasi BBM Kosong

Penulis:   Naim Emel Prahana | Editor:  NEP
oleh
SEJUMLAH armada truk sampah yang berbaris di bahu Jalan Tongkol, tepatnya depan kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metro menanyakan kosoingnya BBM mereka

METRO, Metasatu.com—Jadi blunder, karena pergantian pejabat baru bidang pengadaan di Dinas Lingkungan Hidup DLH), truk pengangkut sampah Kota Metro tidak dapat beroperasi karena Bahan Bakan Minyak (BBM) kosong

Peristiwa tersebut terjadi, Rabu (18/5/2022) di kantor DLH, di mana supir-supir truk yang kebanyakan merupakan armada  pengangkut sampah mendatangi kantor mereka menanyakan BBM tidak dapat diisi di salah satu SPBU langganan DLH.

Menanggapi masalah tersebut, Kepala Dinas (Kadis) LH yang menggantikan Kadis lama, Irianto Marhasan menjelaskan kepada Metasatu bahwa, BBM tidak dapat diambil oleh petugas pengangkut sampah lantaran ada persoalan pembayaran.

“BBM ini dikatakan sulit juga tidak, karena ini ada pergantian pejabat pengadaan. Jadi yang baru belum banyak tahu, jadi hanya keterlambatan SPJ saja. Hari ini sudah masuk transfer,” ujarnya.

Irianto—mantan Kadis PUTR Kota Metro itu mengaku telah berkoordinasi dengan pihak SPBU dan, dirinya Irianto memastikan seluruh armada angkutan mulai beroperasi memungut sampah siang nanti (Rabu, 18 Mei 2022).

“Nanti siang sudah bisa operasional lagi. Kita sudah hubungi SPBU, juga sudah oke. Satu wilayah cukup waktunya kita angkut dalam sehari. Kejadian ini baru ini terjadi,” kata dia.

Sementara Kabid Pengelolaan Sampah DLH, Dedi Alfian menambahkan penjelasan sang Kadis mengatakan, masalah ketersediaan BBM armada truk bukan persoalan yang rumit.

“Ada 21 armada truk, pagi ini belum jalan karena belum ada BBM. Tapi, nanti sudah bisa diambil karena persyaratan untuk pencairannya sudah pada lengkap semua,” urainya meyakinkan para wartawan.

Lagian, kata Dedi menambahkan. ini cuma hari ini saja. Sebenarnya tidak terjadi masalah karena berkas itu ada kesalahan-kesalahan maka kita lengkapi dan yang salah kira perbaiki.

“Jadi, agak terlambatnya karena itu,” jelas dia lagi.

Dedi Alfian, juga menjelaskan masing-masing armada mendapatkan jatah 5.250 liter solar per truk per tahun. Jika ada 21 armada truk, DLH mengeluarkan kocek diperkirakan senilai Rp 567.787.500 atau sebanyak 110.250 liter.

“ Itu, jika harga solar diangka Rp 5.150 per liter,” katanya.

Ditambahkan Dedi Alfian, dengan kesalahan berkas itu, maka pencairan ke Pertamina agak terlambat dan pagi ini sudah dibayar. Kalau anggarannya sudah ada dan tidak ada masalah.

“Anggaran satu mobil truk itu 15 liter per hari. Tinggal dikalikan 350 hari dan dikali 21 truk itu besaran anggarannya setahun,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.