Jembatan Gantung Penghubung Dua Desa di Madiun Jadi Destinasi Wisata Abseiling

Penulis:   Sri Rohmatiah | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Segulung dengan Desa Tileng. Foto: Sri Rohmatiah

MADIUN, Metasatu.com – Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Segulung dengan Desa Tileng, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun berpotensi wisata. Hal ini karena pemandangan sekitarnya yang unik dan memesona.

Dibangun di atas jurang dengan kedalaman kurang lebih 300 meter, memiliki panjang 120 meter dan lebar 3 meter. Jembatan ini pun menjadi daya tarik warga dari berbagai daerah terutama yang hobi bersepeda.

Keadaan tersebut mendorong sejumlah penggiat alam bebas melakukan uji coba abseiling (turun tebing), Sabtu (5/3/2022).

Kegiatan tersebut ternyata mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Madiun (Disparpora). Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Disparpora, Mokh. Hamzah Nugrohanto mengatakan pihaknya masih mengkaji ulang dan menunggu laporan dari para penggiat alam bebas.

“Kemarin saya sudah koordinasi juga dengan PUPR terkait teknis jembatan tersebut apakah layak untuk digunakan wisata minat khusus,” ujar Hamzah kepada Metasatu (7/3/2022).

Sebelumnya Bupati Madiun Ahmad Dawami meresmikan jembatan penghubung pada Selasa (23/11/2021). Jembatan gantung tersebut merupakan hasil dari program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) tahun anggaran 2021.

Hamzah pun menjelaskan, Pemkab Madiun gencar kembangkan pariwisata yang telah ditetapkan Perda Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2017. Dalam pengembangan pariwisata diarahkan menjadi tiga kawasan yakni, Selingkar Wilis, Selingkar Pandan dan Caruban Raya.

Sementara jembatan gantung yang ada di Desa Segulung dan Desa Tileng secara linier termasuk dalam pengembangan Selingkar Wilis.

Hamzah mengatakan, untuk wisata alam, Disparpora memfasilitasi dengan menyediakan 27 orang pemandu gunung yang telah bersertifikat.

“Sedangkan untuk jumping atau abseiling di jembatan gantung, kita masih belum bisa menyatakan itu aman untuk wisatawan. Nanti setelah pembahasan dengan APGI, FPTI, juga dari PUPR dan sudah kita nyatakan aman, baru nanti akan kita kembangkan menjadi wisata minat khusus tersebut,” terang Hamzah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.