Ighopala dan XR Sentil Kebijakan Elit yang Mendorong Kerusakan Lingkungan Hidup

Penulis:   Gita Fetty Utami  | Editor:  Gita FU
oleh
Aksi damai Ighopala dan XR di alun-alun Cilacap, Jumat (23/9/2022). Foto: GFU

CILACAP, Metasatu.com – Mahasiswa pecinta alam yang tergabung dalam Ighopala, dan XR (Extinction Rebellion) sebuah gerakan non partisan internasional, menggelar aksi damai mengkritik kebijakan pemerintah yang mengabaikan lingkungan, di Alun-alun Cilacap, Jumat (23/9/2022) siang.

Aksi Ighopala dan XR ini sebagai refleksi atas kondisi lingkungan yang buruk, terutama abrasi di pesisir pantai Kabupaten Cilacap. Sebagai contoh nyata mereka menyebut pantai di Menganti, Bunton, dan Winong.

Menurut data Ighopala, abrasi tersebut menyebabkan para nelayan kehilangan tempat bersandar sehingga memaksa mereka pindah, sejumlah rumah dan tambak warga ikut tenggelam.

Selain abrasi, ada 78 bencana alam yang terjadi di Kabupaten Cilacap sejak Januari-September 2021. Kerugian material dari seluruh bencana ini mencapai Rp 27 milliar.

Koordinator umum Ighopala Sangidun menyampaikan, peringatan BMKG tidak bisa serta merta menyelamatkan dari bencana jika hal-hal yang harus diperbaiki tidak dilakukan.

“Alih-alih memperbaiki dan memitigasi, yang terjadi adalah pembukaan besar-besaran untuk ‘Cilacap to be Singapore of Java’,“ kritiknya, pada Metasatu.

Laporan terbaru awal Agustus 2021 dari IPCC menyebutkan, frekuensi dan intensitas terjadinya bencana akan terus meningkat seiring dengan kenaikan suhu rata-rata global.

Bukan hanya banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, tapi gelombang panas, kekeringan, kegagalan panen, kenaikan muka air laut yang membuat beberapa kota-kota dan rumah warga tenggelam, krisis udara bersih dan menyebarnya wabah penyakit bakal menjadi kondisi ‘new normal’.

Pantai di Cilacap yang terkena abrasi. Foto: ighopala/ist

Deklarasi Darurat Iklim

Sangidun menegaskan tujuan aksi ini untuk mendesak pemerintah khususnya di Kabupaten Cilacap, untuk mendeklarasikan darurat iklim.

“Agar pemerintah mencabut semua kebijakan yang merusak lingkungan, dan menetapkan kebijakan-kebijakan strategis yang memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan manusia, hewan, lingkungan hidup, dan hak generasi yang akan datang,” sebutnya.

Selain itu aksi ini juga menuntut pemerintah, khususnya di Kabupaten Cilacap, untuk memitigasi potensi kerusakan lingkungan, utamanya di daerah pesisir pantai yang menjadi peruntukan kawasan industri.

“Langkah ke depan kita dari XR akan melakukan aksi lagi. Bentuknya terjun ke lapangan dalam bentuk melakukan penanaman pohon guna meminimalisir terjadinya abrasi,” tutup Sangidun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *