Habiskan Anggaran Miliaran, Jembatan Merah Purbalingga Hanya Jadi Lapak Pedagang

Penulis:   Prajna Buntarti | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Jembatan Merah yang belum berfungsi dimanfaatkan pedagang. Foto: Buntarti

PURBALINGGA, Metasatu.com – Jembatan berwarna merah dengan bentuk indah sepanjang 130 meter melintang di atas aliran sungai Karang. Menghubungkan dua desa yaitu Desa Pepedan di Kecamatan Karangmoncol dan Desa Tegalpingen di Kecamatan Pengadegan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Pembangunan telah dilaksanakan pada tahun 2017 dan menelan anggaran Rp 28 Miliar. Namun hingga saat ini belum bisa difungsikan. Bahkan kondisi terkini, menjadi tempat mengais rupiah para pedagang jajanan. Mereka menggelar lapak di atas jembatan karena setiap hari banyak masyarakat yang berkunjung.

Umumnya masyarakat penasaran akan keindahan bentuk jembatan dan pemandangan alam yang dijadikan spot foto untuk diposting di sosial media. Selain itu mereka juga bisa menikmati liburan gratis bersama keluarga saat akhir pekan atau hari libur, sambil menikmati aneka jajanan.

“Sebenarnya kalau bagi kami para pedagang, jembatan ini menjadi tempat yang cocok untuk berjualan. Biasanya akan ramai pengunjung kalau akhir pekan atau tanggal merah,” kata Aziz (45) salah satu pedagang yang mangkal di Jembatan Merah, kepada Metasatu, Minggu (6/3/2022).

Namun Aziz juga mengaku prihatin karena dana miliaran rupiah menjadi sia-sia.

“Katanya sih masih menunggu audit baru akan dilanjutkan lagi pembangunannya, semoga bisa secepatnya,” jelasnya.

Untuk menjaga agar jembatan tidak semakin rusak, maka dipasang pembatas berupa portal yang terbuat dari kayu, dan hanya kendaraan kecil yang bisa melewati jembatan. Selain kondisi jembatan yang belum layak untuk dilalui kendaraan besar, juga terdapat kerusakan di bagian jalan menuju ke jembatan.

“Pembatas itu supaya tidak ada truk yang lewat, karena saat dilalui mobil kecil saja terasa guncangannya. Kalau kendaraan besar lewat bisa-bisa ambruk, belum lagi kondisi jalan yang di atas sana banyak yang amblas dan bergelombang. Perlu dana miliaran lagi kayaknya untuk perbaikan,” imbuh Aziz.

Jumlah pedagang tetap yang mangkal berjualan di atas jembatan ada 15 orang. Selebihnya adalah pedagang yang sekedar lewat lalu berhenti sebentar untuk berjualan. Mereka merasa diuntungkan dengan belum berfungsinya jembatan tersebut, karena bisa berdagang tanpa harus berkeliling.

“Keuntungan bagi kami yang menetap jualan di sini ya jadi tidak repot berkeliling, tinggal motornya berhenti di tempat biasa kami mangkal, tata dagangan buka payung, siap. Kita tinggal menunggu pelanggan yang datang, bisa duduk-duduk santai dan ngobrol dengan teman-teman. Intinya kami tidak perlu capek menjajakan jajanan berkeliling,” ujar Aziz.

Meski demikian, para pedagang juga berharap jembatan dapat digunakan sebagaimana fungsinya. Tidak dalam kondisi seperti saat ini, walaupun mereka bisa menggunakannya untuk mendapatkan rupiah di sana.

“Semoga saja jembatan ini cepat diperbaiki dan bisa dipakai, walaupun kami secara otomatis tergusur dan harus keliling lagi. Tapi sayang juga dana miliaran dihabiskan kalau akhirnya enggak dipakai seperti saat ini,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.