Guru dan Siswa SMP Pius Cilacap Berbaju Adat di Pembukaan BKSN 2022

Penulis:   Gita Fetty Utami  | Editor:  Gita FU
oleh
Guru SMP Pius Cilacap di pembukaan BKSN, Senin (26/9/2022). Foto: GFU/ist

CILACAP, Metasatu.com — Setelah sempat terhenti 2 tahun akibat masa pandemi, SMP Pius Cilacap kembali menyelenggarakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022,
dan pekan Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bagi seluruh siswa, di aula sekolah, Senin (26/9/2022) pagi.

Uniknya, semua guru dan siswa SMP Pius Cilacap kompak mengenakan pakaian adat nusantara pada pembukaan BKSN 2022 tersebut.

Ketua Panitia yang juga guru mata pelajaran Agama Katolik Wilhelmus Wagonoy, mengungkapkan bahwa tema tahun ini adalah ‘Allah Sumber Harapan Baru’.

Ia berharap dengan BKSN, para siswa SMP Pius Cilacap khususnya akan tumbuh sebagai anak yang kuat secara spiritual.

Kepala SMP Pius Cilacap Thomas Sutasman menyatakan bahwa dalam pekan Kitab Suci Nasional ini para siswa diajak menyandarkan segala sesuatu pada Allah.

Selain itu dengan adanya beberapa perlombaan dalam rangka P5 maka diharapkan para siswa mampu bersaing secara sehat, serta mengembangkan bakat dan minat.

Pekan P5

Lomba melukis rohani tema kebersamaan dalam keberagaman. Foto: GFU

Selama sepekan mulai 26 September-1 Oktober 2022, SMP Pius Cilacap menyelenggarakan lomba-lomba: melukis rohani, koor rohani, menyanyi tunggal, membaca kitab suci, dan majalah dinding.

Khusus untuk kelas VII, kelima lomba tersebut dinilai sebagai bagian dari pelaksanaan P5 dari kurikulum Merdeka Belajar. Sehingga mereka melaksanakan perlombaan di pagi hari.

Adapun jadwal di hari pertama adalah lomba melukis rohani. Para siswa telah membawa sketsa dari rumah, untuk kemudian diselesaikan di lokasi lomba.

Wakil Kepala Bidang Kurikulum Antonius Heri Wibawa menjelaskan, tema lomba lukis adalah ‘dalam keberagaman ada kebersamaan’.

“Di SMP Pius ini ada 3 keberagaman, yaitu agama, suku, dan budaya. Namun dalam keberagaman itu ada kebersamaan. Maka kami membebaskan anak-anak menerjemahkan tema itu ke dalam lukisan,” katanya pada Metasatu usai acara pembukaan.

Ia mengatakan para siswa telah diberitahu mengenai juklak dan juknis perlombaan, sejak sepekan sebelumnya.

Sementara untuk juri, pihak sekolah mengundang dari luar sekolah, yakni Riyadh Ginanjar, pendiri Komunitas Tjilatjap History, dan Suhadi, pelukis profesional.

Para siswa tampak antusias dan mengikuti lomba melukis rohani tersebut. Mereka menyelesaikan sketsa dengan pewarna cat air, pensil warna, maupun crayon.

Contohnya Trias dan Niko, siswa kelas IX A, yang mengaku senang dengan lomba melukis rohani.
Meskipun baru pertama kali mengikuti lomba tersebut, nyatanya mereka tidak begitu kesulitan menerjemahkan tema lomba.

“Bikin sketsa sejak seminggu lalu, setelah diumumkan lombanya,” tutur Trias pada Metasatu di lokasi lomba.

Sedangkan Niko terlihat menikmati proses mewarnai sketsanya.

“Belajar otodidak,” akunya ketika Metasatu menanyakan di mana ia belajar menggambar.

Sedikit berbeda dengan Faustine, siswa kelas IX B. Ia mengaku baru membuat sketsa semalam sebelum lomba.

“Konsepnya ya googling juga. Karena kan temanya keberagaman dan kebersamaan,” tuturnya.

Faustine menerjemahkan tema dengan menggambar sejumlah sosok yang mewakili agama berbeda di nusantara.

Dalam kehidupan sehari-hari siswa ini mengaku mampu bergaul dengan kalangan yang berbeda suku, agama, dan budaya.

“Ya, biasa saja. Kan kita saling bertoleransi,” ucapnya.

Menerjemahkan Keberagaman

Ditemui terpisah di kantornya, Kepala SMP Pius Cilacap Thomas Sutasman mengaku sengaja mengintruksikan pemakaian pakaian adat nusantara.

“Khusus pembukaan kami mengenakan pakaian adat nusantara. Tujuannya agar anak-anak mengenal budayanya sendiri, dan budaya orang lain, melalui pakaian adat yang dikenakan masing-masing siswa. Karena warga belajar di SMP Pius Cilacap tidak hanya berasal dari suku Jawa saja,” tekannya.

Maka dari itu Thomas mengatakan akan kembali menerapkan pembiasaan penggunaan pakaian adat nusantara ini di sekolahnya.

“Dulu sempat rutin seminggu sekali. Lalu berhenti karena pandemi. Ke depan program mengenakan pakaian adat nusantara akan berlanjut, mungkin seminggu sekali atau dua minggu sekali, biasanya jatuh di hari Kamis,” terangnya.

Begitu pula kegiatan BKSN, menurut Thomas, sebetulnya telah menjadi tradisi sekolah yang kini dimulai kembali.

Untuk pelaksanaan P5 khusus kelas VII dilaksanakan full sepekan. Tapi BKSN untuk kelas VIII dan IX dilaksanakan di sela-sela pelajaran. Maka dari itu ada yang melaksanakan lomba di pagi maupun sore hari.

Thomas menjelaskan juri untuk lomba berasal dari internal dan eksternal, tergantung jenis lombanya.

“Contoh pada lomba melukis ini kami mengundang pelukis Suhadi untuk mengajarkan melukis sekaligus jadi juri, serta Riyadh Ginanjar, lulusan Desain ISI. Juga lomba menyanyi tunggal dan koor, ada juri dari luar yang kami undang,” imbuhnya.

Pihak sekolah menyediakan reward berupa piala untuk juara 1-3, serta juara untuk kelas terbanyak memenangkan medali. Namun khusus untuk lomba koor pialanya untuk juara 1-6.

“Sebab mereka sudah berlatih keras,” tutup Thomas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *