Ditetapkan sebagai Tersangka Ekspor CPO, Siapakah Lin Che Wei?

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Lin Che Wei. Foto: Ist

JAKARTA, Metasatu.com – Kelangkaan minyak goreng yang pemerintah menyerah kepada tekanan pengusaha dengan melepas patokan harga eceran tertinggi (HET) hingga harganya berganti rupa dari Rp 13 ribu  menjadi Rp 24 ribu per liter, diduga didesain dari Kementerian Perdagangan. Terbukti, mafia minyak goreng yang sempat didengungkan Menteri Perdagangan M. Luthfi, berada di lingkar kementerian tersebut.

Hal ini terungkap setelah Kejaksaan Agung menetapkan Lin Che Wei alias Weibinanto Halimdjati sebagai tersangka ekspor crude palm oil (CPO). Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana, Lin Che Wei merupakan pihak swasta yang diperbantukan di Kementerian Perdagangan.

“Satu orang tersangka yang dilakukan penahanan yaitu LCW alias WH selaku pihak swasta yang diperbantukan di Kementerian Perdagangan RI,” ujar Ketut kepada wartawan, Selasa (17/5/2022).

Ketut menambahkan, sebelum dilakukan penahanan, tersangka Lin Che Wei telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan swab antigen dengan hasil dinyatakan sehat dan negatif serta langsung ditahan di Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Lin Che Wei disangka melanggar Pasal 2 jo Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Peran Lin Che Wei

Jaksa Agung ST Burhanuddin mengatakan Lin Che Wei diduga berperan dalam mengkondisikan perusahaan yang akan mendapatkan izin ekspor CPO dan turunannya. Pengkondisian itu diduga dilakukan bersama Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Tersangka dalam perkara ini diduga bersama-sama dengan IWW (Indrasari Wisnu Wardhana) telah mengkondisikan produsen CPO untuk mendapatkan izin persetujuan ekspor CPO dan turunnya secara melawan hukum. Sebab saat itu hanya perusahaan yang telah memenuhi kewajiban DMO (Domestic Market Obligation) 20 persen yang boleh melakukan ekspor,” kata Burhanuddin.

Namun faktanya, sejumlah perusahaan yang tidak mematuhi ketentuan DMO tetap mendapat izin ekspor setelah dikondisikan oleh Lin Che Wei dan Indrasari Wisnu Wardhana.

Sebelumnya, selain Indrasari Wisnu Wardhana, Kejagung juga telah menetapkan dan menahan sejumlah tersangka ekspor CPO yakni Stanley MA (SMA) yang merupakan Senior Manager Corporate Affairs Permata Hijau Group, Master Parulian Tumanggor (MPT) atau Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia, dan Picare Togar Sitanggang (PTS) selaku General Manager bagian General Affairs PT Musim Mas.

Siapakah Lin Che Wei? Meski berstatus swasta, pria kelahiran Bandung 1 Desember 1968 ini akrab bekerja di lingkungan pemerintah sebagai policy advisor. Sederet pekerjaan pernah ditangani dari mulai bidang pertanahan hingga revitalisasi Kota Tua Jakarta di masa Gubernur Ahok.

Lin Che Wei disebut-sebut berada di balik pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan pembentukan Industri Biodiesel berbasis Kelapa Sawit saat bertugas sebagai policy advisor Kemenko Perekenomian (2014-2019).

Lin Che Wei pernah mendapatkan penghargaan Tasrif dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.