Dikepung 14 Jam, Anak Kyai Ponpes Shiddiqiyyah Jombang Ditangkap

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh
Mobil yang membawa Mas Bechi ke Mapolda Jatim. Foto: beritajatim.com

JOMBANG, Metasatu.com – Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afianto mengonfirmasi tersangka kasus pencabulan terhadap santriwati, Mochammad Subchi Al Tsani (MSAT) alias Mas Bechi berhasil ditangkap sekira pukul 23.00 WIB. MSAT langsung dibawa ke Polda Jatim untuk menjalani pemeriksaan.

Kapolda juga mempersilahkan jika orang tuanya akan melakukan pendampingan. “Malam ini MSAT sudah bisa kami tangkap dan kita bawa ke Polda Jatim,” ujar Kapolda, Kamis (7/7/2022) tengah malam.

Seperti diketahui polisi telah melakukan upaya penangkapan dengan mengepung dan menggeledah Pondok Pesantren Majmaal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah di Desa Losari, Kecamatan Ploso Jombang, Jawa Timur, sejak Kamis pagi.

Upaya tersebut hampir gagal ketika ratusan orang mencoba menghalangi. Polisi bertindak tegas dengan menahan orang-orang yang menghalangi upoaya paksa. Polisi kemudian menggeledeh Ponpes Shiddiqiyyah. Namun hingga tengah malam upaya pencarian nyaris gagal.

Menurut Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto, luasnya Ponpes Shiddiqiyyah mencapi 5 hektar, dan memiliki banyak bangunan sehingga harus digeledah satu persatu.

Orang tua MSAT yang juga pemimpin ponpes, KH Muhammad Mukhtar Mukhti sempat menjanjikan akan membawa anaknya ke Polda Jatim setelah acara pelantikan selesai. Janji itu disampaikan kepada Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat.

Sebelumnya, pada 3 Juli lalu, polisi juga gagal mengamankan MSAT. Mobil tersangka berhasil masuk ke Ponpes Shiddiqiyyah. Polisi gagal masuk ke ponpes karena dihadang massa yang berusaha melindungi MSAT.

Seperti diketahui MSAT ditetapkan sebagai tersangka atas laporan santriwati yang menjadi korban pencabulan dengan dalih ilmu metafakta. Meski sudah menolak, MSAT memaksa para santriwati membuka baju dengan dalih untuk memasukan ilmu metafakta.

Praktek pencabulan itu diduga berlangsung sejak lama. Namun tidak ada santriwati yang berani membuka pebuatan MSAT. Baru pada tahun 2019, salah satu santriwati mengadu ke Polres Jombang.

Meski demikian laporannya sempat terkatung-katung hingga kemudian diambilalih oleh Polda Jatim dan ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah selesai pemberkasan dan dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan Tinggi, pada 4 Januari 2022, polisi memanggil MSAT untuk penyerahan bekas dan tersangka.

Namun hingga 3 kali dipanggil, MSAT tidak pernah datang. Belakangan diketahui, MSAT mengajukan praperadilan atas penetapan tersangkanya ke PN Surabaya dan PN Jombang, namun ditolak. Polisi kemudian menetapkan Mas Bechi masuk daftar pencarian orang (DPO).

Izin Dicabut

Kementerian Agama (Kemenag) dalam keterangan resminya juga telah mencabut izin operasional Ponpes Shiddiqiyyah.

Menurut nDirektur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono Abdul Ghafur, tindakan ini diambil karena pihak pesantren dinilai menghalangi polisi dalam menjalankan proses hukum terhadap tersangka yang menjadi buronan kasus pencabulan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan kepada aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus pencabulan tersebut. Selain itu, Kanwil Kemenag akan berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Timur dan Jombang untuk memastikan proses belajar santri tetap diberikan sebagaimana mestinya.

Tentang Shiddiqiyyah

Tarekat Shiddiqiyyah digolongkan ke dalam thariqah gairu mu’tabarah (tarekat yang tidak sah) oleh Jami’iyyah Ahli Tariqah al-Mu’tabarah Indonesia (JATMI) serta Nahdlatul Ulama (NU). Sebab sanad atau silsilah tarekatnya terputus.

Shiddiqiyyah disebut memiliki silsilah atau nasab yang panjang, dimulai dari Nabi Muhammad SAW melalui sahabat Abu Bakar As-Shiddiq, lalu turun ke Salman al Farisi, Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Siddiq, Imam Ja’far al-Shadiq, Syeikh Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Sarwasyam al-Basthami, hingga kepada Syeikh Amin al-Kurdi.

Sementara itu, Kiai Muchtar Mu’thi menerima tarekat ini dari gurunya, Syeikh Syu’aib Jamali, sehingga silsilahnya dikatakan terputus.

Tarekat Shiddiqiyyah juga terkesan ekslusif dan tidak termasuk dalam jaringan budaya NU yang ada di Jombang. Kendati dianggap tidak sah, tarekat ini memiliki cukup banyak pengikut di Jombang dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Saat ini ada 22 Dewan Pimpinan Wilayah Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia, di antaranya Yogyakarta, Jawa Tengah, Bengkulu, Jawa Barat, Lampung, Jawa Timur, Bali, Jakarta, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Utara, Banten, Jambi, hingga Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah.

Ponpes Shiddiqiyyah memiliki murid lebih dari lima juta orang yang terdiri dari berbagai usia, mulai dari remaja hingga orang tua.

Dalam ajarannya, tarekat Shiddiqiyyah bertujuan mencari kebenaran Ma’rifatullah dengan cara yang sebenar-benarnya atau shiddiq dalam Bahasa Arab. Tarekat ini juga merupakan ilmu tasawuf atau kebersihan jiwa.

Oleh sebab itu, penganut Tarekat Shidiqiyyah juga dimaksudkan menjadi orang yang menjaga kebersihan jiwanya. Tarekat Shiddiqiyyah juga memberikan tuntutan untuk dekat dengan Allah melalui Dzikir Jahar Nafi Isbat.

Ajaran Tarekat Shiddiqiyyah juga memberikan tuntutan agar manusia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya melalui jalan Dzikir Sirri Ismu Dzat.

Caranya dengan berdiam diri dalam posisi duduk bersila dan lidahnya diletakkan di atas langit-langit lalu menyebut Allah sebanyak 500 kali setiap selesai salat.

One thought on “Dikepung 14 Jam, Anak Kyai Ponpes Shiddiqiyyah Jombang Ditangkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.