Dari Tokopedia hingga TikTok, Ini Kiprah Softbank yang Batal Danai IKN Nusantara

Penulis:   Yon Bayu Wahyono | Editor:  Yon Bayu Wahyono
oleh

JAKARTA, Metasatu.com – Mundurnya Softbank membuat banyak pihak bertanya-tanya terkait kelanjutan mega proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur. Bukan saja kehilangan rencana investasi US$ 100 miliar, mundurnya Softbank bisa menimbulkan efek domino sehingga kelanjutan pembangunan Ikn Nusantara menjadi tanda tanya.

Jangan disepelekan, Softbank menjadi semacam acuan bagi investor lain dalam melihat peluang, keamanan, return hingga resiko dari sebuah investasi. Upaya Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menemui dan meminta Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salam bin Abdulaziz (MBS) untuk menanam modal di IKN Nusantara belum tentu terealisasi.

Bukankah janji invenstasi yang disampaikan Raja Salman bin Abdulaziz saat menemui Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu juga belum semuanya direalisasikan?

Mengenal Softbank

Lalu siapakah Softbank dan mengapa pemerintah harus segera melakukan antisipasi pendanaan agar tidak semakin membebani APBN?
Softbank dikenal sebagai salah satu perusahaan modal ventura (venture capital company) terbesar di dunia. Mereka menggelontorkan dana investasi pada perusahaan rintisan (starup) atau mengambilalih perusahaan yang sedang sekarat.

Softbank merupakan perusahaan modal ventura multinasional dari Jepang yang didirikan pada September 1981 oleh Masayoshi Son. Awalnya Softbank hanya fokus pada usaha telekomunikasi. Namun saat ini telah merambah ke berbagai sektor seperti industri, e-commerce, pemasaran hingga financial. Setelah besar dan melahirkan Visi 300 tahun, Masayoshi Son mendiri anak perusahaan Softbank bernama Softbank Vision Fund.

Perusahaan Vision Fund yang didirikan tahun 2017 berada di bawah pengawasan langsung Masayoshi Son dengan CEO Rajeev Misra. Vision Fund ini umumnya digunakan sebagai penghubung antara Softbank dengan perusahaan maupun startup lain yang didanai.

Fokus invenstasi Vision Fund saat ini adalah perusahaan di bidang teknologi seperti artificial intelligence, robotics, dan mobile apps, yang dianggap sebagai jalan menuju masa depan yang lebih modern.

Nilai modal yang disuntikan Softbank dan belakangan melalui Vision Fund, tidak tanggung-tanggung. Nilainya bisa mencapai jutaan, bahkan miliaran dolar Amerika.

Salah satu investasi pertamanya adalah pada Alibaba, perusahaan e-commerce asal Tiongkok yang dirintis Jack Ma. Kerjasama Jack Ma dan Masayoshi Son menjadikan Alibaba sebagai salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia.

Selain Alibaba, Softbank juga berinvestasi pada perusahaan e-commerce terbesar asal Indonesia, yakni Tokopedia milik William Tanuwijaya, yang dimulai sejak Juni 2013.

Tidak hanya di e-commerce, Softbank juga memberikan investasi di perusahaan-perusahaan lain, seperti Uber dan Ola yang memberikan layanan ride-hailing, serta ByteDance yang terkenal dengan aplikasi TikTok-nya.

Softbank juga melakukan sejumlah akuisisi atas perusahaan lain, seperti Boston Dynamics yang bergerak di bidang robotics, Sprint asal Amerika, dan yang terbaru adalah We Company, perusahaan yang terkenal dengan WeWork, jaringan penyedia co-working space multinasional.

Softbank dikenal sebagai perusahaan ventura yang berani melakukan spekulasi pada proyek-proyek bernilai miliaran dolar. Tidak terlalu mengejutkan jika Softbank awalnya tertarik untuk membiayai sejumah proyek di IKN Nusantara.

Jika kemudian mundur, tentu ada perhitungan lain, atau menemukan ketidaksesuaian yang berpotensi membahayakan investasinya. Sejauh ini belum ada alasan rinci yang disampaikan Softbank ketika membatalkan investasinya di IKN Nusantara.

*diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.