CFD Diproyeksikan Jadi Ikon Wisata Cilacap

Penulis:   Gita Fetty Utami  | Editor:  Gita FU
oleh
CFD di Alun-alun Cilacap jadi destinasi wisata urban warga. Foto:ARS/ist

CILACAP, Metasatu.com — Car Free Day/CFD di Alun-alun Cilacap telah memasuki pekan kedua sejak dibuka kembali Minggu (12/6/2022). Ribuan pengunjung masih sama antusiasnya menyusuri deretan lapak UMKM.

Ditemani alunan live music yang disediakan oleh panitia, tak pelak CFD seolah menjelma jadi obyek wisata urban. Kali ini ratusan lapak UMKM terlihat lebih siap menyambut pembeli dibanding pekan lalu.

Belum lama ini wartawan Metasatu Gita Fetty Utami berkesempatan menemui Suwaryan, Ketua Asosiasi UMKM, yang menjadi ketua panitia CFD Cilacap 2022. Ia mengungkapkan sejumlah hal di balik penyelenggaraan CFD pertama dan selanjutnya.

Berikut petikan wawancara yang dilakukan di kantor Asosiasi UMKM, seberang Fave Hotel, Cilacap, Rabu (15/6/2022):

Gelaran CFD ini kabarnya di bawah pimpinan Disporapar dan bukan DPKUKM. Kenapa demikian Pak?

Ya, karena Car Free Day atau CFD ini diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata di Cilacap, Mbak. Sedangkan untuk menangani pedagang, dari DPKUKM menunjuk Asosiasi UMKM.

Pada gelaran CFD yang pertama konon ada ketidakpuasan dari pedagang alun-alun karena merasa tidak diakomodir. Benarkah?

Tidak benar. Justru setelah rapat pertama hari Kamis (9/6/2022), besoknya kami panggil Ketua Paguyuban PKL Alun-alun, Pak Waris. Itu bisa dikonfirmasi ke sana. Hingga hari terakhir pendaftaran banyak pedagang alun-alun yang mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP.

Jika ada yang tidak terakomodir ya hanya sedikit saja. Mungkin saja tidak punya HP atau pas hari pendaftaran belum ketemu Pak Waris, dan hal-hal teknis lainnya.

Pada akhirnya hingga hari H pagi-pagi pun kami masih komunikasi dengan Pak Waris. Artinya komunikasi kami terbuka. Kalau 1-2 orang belum terakomodir itu wajar. Tapi kalau mengatasnamakan pedagang alun-alun ya tidak bisa.

Apa yang menyebabkan animo masyarakat begitu besar untuk berjualan di CFD?

Itu wajar. Ketika saya berjalan-jalan sendiri melihat lapak-lapap pedagang, saya lihat untuk pedagang kuliner 80-90% dagangannya laris terjual. Artinya jika dihitung transaksi berdasarkan Rupiah, omset rata-rata 500 ribu-2 juta, maka total omset bisa 300-400 juta.

Apa saja kekurangan yang Bapak lihat pada CFD pertama?

Banyak pedagang tidak sesuai layout. Contoh ada dinas yang mendaftar H-1, meskipun pada saat rapat Kamis sudah kita beritahu soal layout-nya, namun belum ‘ngeh’. Ketika Sekda sudah mengomando barulah mereka ‘ngeh’ dan mendaftar.

Ada juga dinas yang mesti menunggu UKM binaannya. Setelah UKM binaan bilang siap, Dinas baru mendaftarkan diri.

Dari kejadian tersebut apa yang bisa disimpulkan, Pak?

Mereka benar-benar butuh wadah untuk mencari nafkah.

Bagaimana konsep CFD ke depan?

Minggu pertama itu kami fokus pada masalah pendaftaran. Minggu kedua kami fokus ke internal. Nanti akan bisa dibedakan mana yang terdaftar, mana yang belum.

Nantinya akan ada ID Card baik
yang dikalungkan untuk para pedagang, maupun yang untuk digantungkan di lapak.

Bagaimana soal uang registrasi, Pak?

Jadi gini, biaya registrasi itu dibagi menjadi 2. Pertama, sebesar 20 ribu sekali saja. Itu untuk kas Asosiasi. Kedua, sebesar 30 ribu ini untuk operasional selama 1 bulan.

Biaya operasional itu misalnya untuk ngundang live music, sponsor, dan lainnya.Misalkan ada anggota kami yang ditunjuk ikut pameran UMKM di luar kota, maka akan kami subsidi untuk uang saku dari hasil uang kas tadi.

Jadi uang operasional itu dari pedagangĀ  kembali lagi ke pedagang. Tapi saya juga mau tetap evaluasi hingga 3 x kegiatan. Supaya tahu betul-betul berapa total pengeluaran. Saya nggak mau membebani teman-teman UKM, ataupun terbebani oleh CFD.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.