Berkah Ramadhan, Petani Timun Suri di Pugung Raup Keuntungan Besar

Penulis:   Komariah | Editor:  Komariah
oleh
Pembeli memilih timun suri. Foto: Ist

TANGGAMUS, Metasatu.com — Timun suri seolah menjadi buah primadona di bulan Ramadhan. Selain teksturnya lembut, daging buah timun suri menjadi komponen minuman penyegar saat berbuka puasa. Oleh karenanya banyak diminati warga dan pedagang selama bulan puasa.

Ridho (43), salah seorang petani timun suri di Dusun Merabung III Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus, Lampung, mengaku, sejak dua hari sebelum Ramadhan, komoditi buah hasil kebunnya tersebut sudah dibanjiri pesanan. Baik oleh warga sekitar, pedagang eceran maupun pengepul.

“Saya panen pertama pas dua hari menjelang puasa, saya jual ke pengepul dengan harga kiloan, kalau untuk pedagang eceran, bijian,” kata Ridho kepada Metasatu, saat ditemui di lokasi kebun, Selasa, (5/4/2022).

Dikatakan Ridho, bahwa saat ini, tepat di hari ketiga di bulan Ramadhan, buah hasil kebunnya tersebut sudah dipanen yang ketiga kalinya. Dari hasil perolehan panen tersebut, ia merasa bangga dan bersyukur.

“Alhamdulillah panen pertama saya dapat 5 kwintal. Saya jual ke pengepul dengan harga Rp. 3000 per kilogram. Dari hasil panen pertama ini, saya sudah balik modal dan sudah dapat keuntungan,” ujarnya.

Kemudian untuk panen yang kedua, di hari pertama bulan Ramadhan, dirinya memperoleh hasil 3 kwintal. Karena saat itu sudah masuk Ramadhan, harga meningkat menjadi 3500 per kilogram.

“Trus sekarang ini, panen yang ketiga, dapet 3 kwintal lagi, metiknya kadang 3 hari, kadang 4 hari sekali, tergantung buahnya, sudah siap panen atau belum,” lanjut Ridho.

Dijelaskan Ridho, untuk ke pengepul, dia menjualnya dengan sistim kiloan. Sedangkan untuk pedagang eceran, dia menjual menurut bijian. Harganya berkisar Rp. 5000 sampai Rp. 15.000 bergantung besar kecil ukuran.

Disinggung mengenai keberhasilannya dalam bercocok tanam, Ridho menerangkan bahwa, untuk sistem perawatan, sejak tanam sampai panen, dilakukan pemupukan selama selama 5 kali.

Pemupukan yang pertama dilakukan 15 hari setelah tanam (hst), kemudian 22 hst, 29 hst, 36 hst, dan yang terakhir 50 hst.

“Untuk pemupukan sistem kocor dilakukan seminggu sekali, sedangkan sistem butiran 14 hari sekali. Kalau musim hujan saya biasa pupuk pake butiran, nah, kalo pas cuaca panas, kita siasati, kita bantu pakai pupuk kocoran, biar pupuknya lebih mudah diserap akar, Mbak,” terang Ridho.

Masih kata Ridho, bertani itu tidaklah sulit, asal sudah mengetahui caranya bercocok tanam, mulai dari pengolahan lahan, sistem pembibitan, penanaman, penyiangan dan terakhir yaitu perawatan.

“Yang penting sudah mengetahui ilmunya bertani, sudah tahu penangulangannya seperti apa, untuk antisipasi terhadap hama atau penyakit pada tanaman sudah tahu obatnya,” bebernya.

Ridho berharap dengan perawatan yang maksimal, hasil timun surinya masih produktif sampai menjelang syawal.

“Mudah – mudahan masih produktif, saya yakin masih bisa panen 6 sampai 10 kali lagi sampai bulan syawal nanti,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.